Halaman

RINERLIS SITUMORANG

Minggu, 11 Desember 2011

Bentuk dan Bahan Pembelajaran


BAB I
PENDAHULUAN
Pendidikan pasti selalu berkaitan dengan pembelajaran. Arti dari pembelajaran itu adalah serangkaian kegiatan yang dirancang untuk memungkinkan terjadinya proses belajar pada siswa. Dalam merangkai kegiatan pembelajaran memerlukan komponen diantaranya tujuan, materi, kegiatan dan evaluasi pembelajaran. Komponen-komponen tersebut saling berkaitan jadi untuk mewujudkan komponen tersebut perlu adanya rancangan sebagai acuan dalam pembelajaran. Acuan dalam pembelajaran dapat berupa pendekatan, strategi, metode, teknik, taktik, dan model pembelajaran.
Mewujudkan pembelajaran yang tidak membosankan bagi siswa perlu adanya Inovasi dalam pembelajaran. Inovasi itu dapat diartikan adalah penemuan ide, gagasan, alat, barang, dan lain-lain yang baru guna memecahkan suatu masalah atau mencapai tujuan tertentu. Lebih diutamakan lagi Inovasi dalam pembelajaran dalam hal pendekatan, strategi, metode, teknik, taktik, dan model pembelajaran. Karena hal-hal ini yang merupakan jembatan interaksi antara guru dengan siswa. Jembatan ini sebagai hal untuk mewujudkan tujuan utama pembelajaran yaitu peningkatan hasil belajar siswa.
Acuan dalam pembelajaran dapat berupa pendekatan, strategi, metode, teknik, taktik, dan model pembelajaran. Supaya dapat memahami hal tersebut mari bahas satu persatu. Pendekatan adalah sebagai titik tolak atau sudut pandang guru terhadap proses pembelajaran, yang merujuk pada pandangan tentang terjadinya proses yang sifatnya masih umum, di dalamnya mewadahi, menginspirasi, menguatkan, dan melatari metode pembelajaran dengan cakupan teoritis tertentu. Pendekatan pembelajaran terdapat dua jenis pendekatan yaitu pendekatan pembelajaran yang berorientasi atau berpusat pada siswa (student centered approach) dan pendekatan pembelajaran yang berorientasi atau berpusat pada guru (teacher centered approach).

BAB II
PEMBAHASAN
A. Bentuk Kegiatan Pembelajaran
1. Pengajar Sebagai Fasilitator dan Siswa Belajar Sendiri
            Bentuk kegiatan yang pertama adalah kegiatan pengajar bertindak sebagai fasilitator sedangkan siswa belajar sendiri. Bentuk kegiatan pembelajaran ini disebut pula sebagai belajar mandiri (independent learning).
            Dalam belajar mandiri siswa menggunakan bahan belajar yang didesain secara khusus, bahan tersebut dipelajarinya tanpa tergantung pada kehadiran pengajar. Jenis bahan belajar tersebut dapat pula berupa salah satu atau kombinasi dari program media, bahan cetak, film, kaset audio, program radio, slide, program video, televisi, komputer, dan lain-lain.
            Pengajar bertindak sebagai fasilitator untuk mengontrol kemajuan mahasiswa, memberi motivasi, memberi petunjuk untuk memecahkan kesulitan mahasiswa, dan meneyelenggarakan tes. Biasanya mereka disebut tutor atau fasilitator. Kegiatan instruksional seperti di SMP Terbuka, Universitas Terbuka, dan program belajar jarak jauh pada Lembaga Pengembangan Perbankan.
            Untuk bentuk kegiatan belajar mandiri, pengembang instruksional harus mengembangkan bahan belajar mandiri yang biasanya disebut modul. Termasuk di dalamnya bahan belajar yang akan digunakan siswa, petunjuk untuk tutor, tes, dan petunjuk untuk siswa.
            Penggunaan bentuk kegiatan instruksional belajar mandiri ini  mempunyai beberapa keuntungan, yaitu:
a.       Biaya penegajarannya tidak mahal, karena dapat diikuti oleh sejumlah besar siswa
b.      Siswa dapat maju menurut kecepatan masing-masing
c.       Bahan belajar dapat direviu dan direvisi secara bertahap, bagian demi bagian, untuk mengatasi hal-hal yang membingungkan atau kurang jelas dari siswa.
d.      Siswa mendapatkan umpan balik secara teratur dalam proses belajarnya, karena telah terintegrasi dalam bahan belajar yang dipelajarinya.
            Tetapi bentuk kegiatan instruksional belajar mandiri ini mempunyai kekurangan-kekurangan sebagai berikut:
a.       Biaya pengembangan bahan tinggi dan waktu yang dibutuhkan lama
b.      Menuntut disiplin belajar yang tinggi yang mungkin kurang dimiliki oleh siswa pada umumnya dan siswa yang masih belum matang pada khususnya
c.       Membutuhkan ketekunan yang lebih tinggi dari fasilitator untuk terus-menerus membantu proses belajar siswa, memberi motivasi dan konsultasi secara individual setiap waktu siswa membutuhkannya. Ketekunan seperti itu tidak selalu dimiliki fasilitator yang telah biasa menjadi pengajar, bukan karena sulitnya cara melaksanakan tugas tersebut melainkan perbedaannya dengan sikap dalam mengajar secara klasikal yang dilakukan guru pada umumnya.
2. Pengajar Sebagai Sumber Tunggal dan Siswa Belajar Darinya
            Bentuk kegiatan instruksional yang menempatkan pengajar sebagai sumber tunggal disebut pengajaran konvensional. Kegiatan instruksioanal ini berlangsung dengan menggunakan pengajar sebagai satu-satunya sumber belajar dan sekaligus bertindak sebagai penyaji isi pelajaran. Pengajaran ini tidak menggunakan bahan belajar apa pun, kecuali garis-garis besar isi dan jadwal pelajaran yang disampaikan pada permulaan pelajaran, beberapa transparansi, lembaran kertas yang berisi gambar, bagan dan formulir-formulir isian untuk digunakan dalam latihan (exercise)selama proses pengajaran. Siswa mengikuti kegiatan instruksional tersebut dengan cara mendengarkan ceramah dari pengajar, mencatat, mengisi formulir dan mengerjakan tuga-tugas yang diberikan oleh pengajar.
            Bahan-bahan yang perlu dibuat oleh pengembang instruksional berbentuk:
a.       Program pengajaran yang berisi:
-         Deskripsi singkat isi pelajaran
-         Topik dan jadwal pelajaran untuk setiap pertemuan (bila terdiri dari lebih dari satu kali pertemuan)
-         Tugas-tugas yang diharapakan diselesaikan siswa
-         Cara pemberian nilai hasil belajar siswa
b.      Bahan tersebut dibagikan kepada siswa pada permulaan pelajaran.
Bahan-bahan transparansi, gambar, bagan, formulir isian, dan lain-lain. Bahan ini dikumpulkan atau dibagikan kepada siswa selama proses pengajaran berlangsung.
Strategi instruksional dan tes yang telah dikembangkan untuk digunakan oleh pengajar. Strategi instruksional tersebut seringkali diganti dengan garis-garis besar program pengajaran (GBPP) dan satuan acara pengajaran (SAP). Keduanya lebih populer bagi kalangan pengajar di Indonesia, baik pada tingkat pendidikan dasar dan menengah maupun pendidikan tinggi.
           

Pengajaran konvensional mempunyai beberapa kelebihan sebagai berikut:
a.       Efisiensi
b.      Tidak mahal, karena menggunakan sedikit bahan instruksional
c.       Kegiatan instruksional mudah disesuaikan dengan keadaan siswa
            Tetapi bentuk kegiatan instruksional ini mempunyai kekurangan sebagai berikut:
a.       Biaya penyajian mahal, karena harus disampaikan oleh pengajar langsung
b.      Sulit melayani kelompok siswa yang heterogen
c.       Gaya pengajar yang dapat berubah-ubah dari waktu ke waktu atau dari pengajar yang satu kepada pengajar yang lain, dapat membuat kegiatan instruksioanal tidak konsisten.
d.      Pengajar sebagai penyaji bahan belajar yang dipilihnya disingkat pengajar, bahan, siswa (PBS)
            Kigiatan instruksional PBS menggunakan bahan belajar yang telah ada di lapangan. Bahan belajar itu dipilih oleh yang telah disusunnya. Pengajar menyajikan isi pelajaran sesuai dengan strategi instruksional yang disussunnya dengan menambah atau mengurangi materi yang ada didalam bahan belajar yang ia gunakan.
            Bahan instruksional yang harus disiapkan oleh pengembang instruksional terdiri atas:
a.       Garis-garis besar program pengajaran
b.      Bahan instruksional yang kebetulan tersedia dilapangan, tetapi relevan dengan strategi instruksional yang telah disusunnya
c.       Tes
Keuntungan menggunakan PBS adalah:
a.       Relatif efisien
b.      Kegiatan instruksional mudah disesuaikan dengan keadaan siswa
            Kekurangan PBS yaitu: bahan belajar yang kebetulan ada dilapangan belum tentu sesuai benar. Bila bahan tersebut diambilkan dari berbagai sumber, konsistennya antara bagian yang satu dengan yang lain belum tentu terjamin.
            Bentuk kegiatan yang instruksional yang semacam PBS ini banyak digunakan ditingkat perguruan tinggi. Para dosen menggunakan buku atau bagian-bagian dari berbagai buku yang diramunya sendiri.


B. Bahan Pembelajaran        
1. Pengertian Bahan Ajar
            Bahan ajar adalah segala bentuk bahan yang digunakan untuk membantu guru/instruktor dalam melaksanakan kegiatan belajar mengajar di kelas.Bahan yang dimaksud bisa berupa bahan tertulis maupun bahan tidak tertulis.
            Guru harus memiliki atau menggunakan bahan ajar yang sesuai dengan :
v     Kurikulum,
v     Karak teristik sasaran,
v     Tuntutan pemecahan masalah belajar.

2. Tujuan dan Manfaat Penyusunan Bahan Ajar
a.       Bahan ajar disusun dengan tujuan:
  1. Menyediakanbahan ajar yang sesuai dengan tuntutan kurikulum dengan mempertimbangkan kebutuhan peserta didik, yakni bahan ajar yang sesuai dengan karakteristik dan setting atau lingkungan sosial peserta didik.
  2. Membantu peserta didik dalam memperoleh alternatif bahan ajar di samping buku-buku teks yang terkadang sulit diperoleh
  3. Memudahkan guru dalam melaksanakan pembelajaran.
b.      Manfaat bagi guru
  1. Diperoleh bahan ajar yang sesuai tuntutan kurikulum dan sesuai dengan kebutuhan belajar peserta didik,
  2. Tidak lagi tergantung kepada buku teks yang terkadang sulit untuk diperoleh,
  3. Memperkaya karena dikembangkan dengan menggunakan berbagai referensi,
  4. Menambah khasanah pengetahuan dan pengalaman guru dalam menulis bahan ajar,
  5. Membangun komunikasi pembelajaran yang efektif antara guru dengan peserta didik karena peserta didik akan merasa lebih percaya kepada gurunya.
  6. Menambah angka kredit jika dikumpulkan menjadi buku dan diterbitkan.
c.       Manfaat bagi Peserta Didik
1.      Kegiatan pembelajaran menjadi lebih menarik.
2.      Kesempatan untuk belajar secara mandiri dan mengurangi ketergantungan terhadap kehadiran guru.
3.      Mendapatkan kemudahan dalam mempelajari setiap kompetensi yang harus dikuasainya
d.      Prinsip Pengembangan
1.      Mulaidari yang mudah untuk memahami yang sulit, dari yang kongkret untuk memahami yang abstrak,
2.      Pengulangan akan memperkuat pemahaman
3.      Umpan balik positif akan memberikan penguatan terhadap pemahaman peserta didik
4.      Motivasi belajar yang tinggi merupakan salah satu faktor penentu keberhasilan belajar
5.      Mencapai tujuan ibarat naik tangga, setahap demi setahap, akhirnya akan mencapai ketinggian tertentu.
6.      Mengetahui hasil yang telah dicapai akan mendorong peserta didik untuk terus mencapai tujuan
3. Teknik Penyusunan Bahan Ajar
a. Analisis Kebutuhan Bahan Ajar
  1. Analisis SK-KD-Indikator
  2. Analisis Sumber Belajar
  3. Pemilihan dan Penentuan Bahan Ajar
b. Penyusunan  Bahan Ajar Cetak memperhatikan
  1. Susunan tampilan,
  2. Bahasa yang mudah,
  3. Menguji pemahaman,
  4. Stimulan,
  5. Kemudahan dibaca,
  6. Materi instruksional,

c. Jenis bahan ajar
Berdasarkan teknologi yang digunakan, bahan ajar dapat dikelompokkan menjadi empat kategori, yaitu bahan cetak (printed) seperti antara lain handout, buku, modul, lembar kerja siswa, brosur, leaflet, wallchart, foto/gambar, model/maket. Bahan ajar dengar (audio) seperti kaset, radio, piringan hitam, dan compact disk audio.Bahan ajar pandang dengar (audio visual) seperti video compact disk, film.Bahan ajar multimedia interaktif (interactive teaching material) seperti CAI (Computer Assisted Instruction), compact disk (CD) multimedia pembelajaran interaktif, dan bahan ajar berbasis web (web based learning materials).

Selanjutnya pada buku pedoman ini hanya akan dibahas tentang bahan ajar cetak. Untuk bahan ajar non-cetak akan dibahas pada buku pedoman tersendiri.
1. Bahan Ajar Cetak (Printed)
            Bahan cetak dapat ditampilkan dalam berbagai bentuk. Jika bahan ajar cetak tersusun secara baik maka bahan ajar akan mendatangkan beberapa keuntungan seperti yang dikemukakan oleh Steffen Peter Ballstaedt, 1994 yaitu:
a.       Bahan tertulis biasanya menampilkan daftar isi, sehingga memudahkan bagi seorang guru untuk menunjukkan kepada peserta didik bagian mana yang sedang dipelajari
b.      Biaya untuk pengadaannya relatif sedikit
c.       Bahan tertulis cepat digunakan dan dapat dipindah-pindah secara mudah
d.      Susunannya menawarkan kemudahan secara luas dan kreativitas bagi individu
e.       Bahan tertulis relatif ringan dan dapat dibaca di mana saja
f.        Bahan ajar yang baik akan dapat memotivasi pembaca untuk melakukan aktivitas, seperti menandai, mencatat, membuat sketsa
g.       Bahan tertulis dapat dinikmati sebagai sebuah dokumen yang bernilai besar
h.       Pembaca dapat mengatur tempo secara mandiri
Kita mengenal berbagai jenis bahan ajar cetak, antara lain hand out, buku, modul, poster, brosur, dan leaflet.
a. Handout
            Handout adalah bahan tertulis yang disiapkan oleh seorang guru untuk memperkaya pengetahuan peserta didik. Menurut kamus Oxford hal 389, handout is prepared statement given. Handout adalah pernyataan yang telah disiapkan oleh pembicara.
            Handout biasanya diambilkan dari beberapa literatur yang memiliki relevansi dengan materi yang diajarkan/ KD dan materi pokok yang harus dikuasai oleh peserta didik. Saat ini handout dapat diperoleh dengan berbagai cara, antara lain dengan cara down-load dari internet, atau menyadur dari sebuah buku.

b. Buku
            Buku adalah bahan tertulis yang menyajikan ilmu pengetahuan buah pikiran dari pengarangnya. Oleh pengarangnya isi buku didapat dari berbagai cara misalnya: hasil penelitian, hasil pengamatan, aktualisasi pengalaman, otobiografi, atau hasil imajinasi seseorang yang disebut sebagai fiksi. Menurut kamus oxford hal 94, buku diartikan sebagai: Book is number of sheet of paper, either printed or blank, fastened together in a cover. Buku adalah sejumlah lembaran kertas baik cetakan maupun kosong yang dijilid dan diberi kulit. Buku sebagai bahan ajar merupakan buku yang berisi suatu ilmu pengetahuan hasil analisis terhadap kurikulum dalam bentuk tertulis.
            Buku yang baik adalah buku yang ditulis dengan menggunakan bahasa yang baik dan mudah dimengerti, disajikan secara menarik dilengkapi dengan gambar dan keterangan-keterangannya, isi buku juga menggambarkan sesuatu yang sesuai dengan ide penulisannya. Buku pelajaran berisi tentang ilmu pengetahuan yang dapat digunakan oleh peserta didik untuk belajar, buku fiksi akan berisi tentang fikiran-fikiran fiksi si penulis, dan seterusnya.

c. Modul
            Modul adalah sebuah buku yang ditulis dengan tujuan agar peserta didik dapat belajar secara mandiri tanpa atau dengan bimbingan guru, sehingga modul berisi paling tidak tentang:
ž     Petunjuk belajar (Petunjuk siswa/guru)
ž     Kompetensi yang akan dicapai
ž     Content atau isi materi
ž     Informasi pendukung
ž     Latihan-latihan
ž     Petunjuk kerja, dapat berupa Lembar Kerja (LK)
ž     Evaluasi
ž     Balikan terhadap hasil evaluasi
            Sebuah modul akan bermakna kalau peserta didik dapat dengan mudah menggunakannya. Pembelajaran dengan modul memungkinkan seorang peserta didik yang memiliki kecepatan tinggi dalam belajar akan lebih cepat menyelesaikan satu atau lebih KD dibandingkan dengan peserta didik lainnya. Dengan demikian maka modul harus menggambarkan KD yang akan dicapai oleh peserta didik, disajikan dengan menggunakan bahasa yang baik, menarik, dilengkapi dengan ilustrasi.

d. Lembar Kegiatan Siswa
            Lembar kegiatan siswa (student worksheet) adalah lembaran-lembaran berisi tugas yang harus dikerjakan oleh peserta didik. Lembar kegiatan biasanya berupa petunjuk, langkah-langkah untuk menyelesaikan suatu tugas. Suatu tugas yang diperintahkan dalam lembar kegiatan harus jelas KD yang akan dicapainya. Lembar kegiatan dapat digunakan untuk mata pembelajaran apa saja. Tugas-tugas sebuah lembar kegiatan tidak akan dapat dikerjakan oleh peserta didik secara baik apabila tidak dilengkapi dengan buku lain atau referensi lain yang terkait dengan materi tugasnya. Tugas-tugas yang diberikan kepada peserta didik dapat berupa teoritis dan atau tugas-tugas praktis. Tugas teoritis misalnya tugas membaca sebuah artikel tertentu, kemudian membuat resume untuk dipresentasikan. Sedangkan tugas praktis dapat berupa kerja laboratorium atau kerja lapangan, misalnya survey tentang harga cabe dalam kurun waktu tertentu di suatu tempat. Keuntungan adanya lembar kegiatan adalah bagi guru, memudahkan guru dalam melaksanakan pembelajaran, bagi siswa akan belajar secara mandiri dan belajar memahami dan menjalankan suatu tugas tertulis.

            Dalam menyiapkannya guru harus cermat dan memiliki pengetahuan dan keterampilan yang memadai, karena sebuah lembar kerja harus memenuhi paling tidak kriteria yang berkaitan dengan tercapai/ tidaknya sebuah KD dikuasai oleh peserta didik.
e. Brosur
            Brosur adalah bahan informasi tertulis mengenai suatu masalah yang disusun secara bersistem atau cetakan yang hanya terdiri atas beberapa halaman dan dilipat tanpa dijilid atau selebaran cetakan yang berisi keterangan singkat tetapi lengkap tentang perusahaan atau organisasi (Kamus besar Bahasa Indonesia, Edisi Kedua, Balai Pustaka, 1996). Dengan demikian, maka brosur dapat dimanfaatkan sebagai bahan ajar, selama sajian brosur diturunkan dari KD yang harus dikuasai oleh siswa. Mungkin saja brosur dapat menjadi bahan ajar yang menarik, karena bentuknya yang menarik dan praktis. Agar lembaran brosur tidak terlalu banyak, maka brosur didesain hanya memuat satu KD saja. Ilustrasi dalam sebuah brosur akan menambah menarik minat peserta didik untuk menggunakannya.
f. Leaflet
            A separate sheet of printed matter, often folded but not stitched (Webster’s New World, 1996) Leaflet adalah bahan cetak tertulis berupa lembaran yang dilipat tapi tidak dimatikan/dijahit. Agar terlihat menarik biasanya leaflet didesain secara cermat dilengkapi dengan ilustrasi dan menggunakan bahasa yang sederhana, singkat serta mudah dipahami. Leaflet sebagai bahan ajar juga harus memuat materi yang dapat menggiring peserta didik untuk menguasai satu atau lebih KD.


g. Wallchart
            Wallchart adalah bahan cetak, biasanya berupa bagan siklus/proses atau grafik yang bermakna menunjukkan posisi tertentu. Agar wallchart terlihat lebih menarik bagi siswa maupun guru, maka wallchart didesain dengan menggunakan tata warna dan pengaturan proporsi yang baik. Wallchart biasanya masuk dalam kategori alat bantu melaksanakan pembelajaran, namun dalam hal ini wallchart didesain sebagai bahan ajar. Karena didesain sebagai bahan ajar, maka wallchart harus memenuhi kriteria sebagai bahan ajar antara lain bahwa memiliki kejelasan tentang KD dan materi pokok yang harus dikuasai oleh peserta didik, diajarkan untuk berapa lama, dan bagaimana cara menggunakannya. Sebagai contoh wallchart tentang siklus makhluk hidup binatang antara ular, tikus dan lingkungannya.

h. Foto/Gambar
            Foto/gambar memiliki makna yang lebih baik dibandingkan dengan tulisan. Foto/gambar sebagai bahan ajar tentu saja diperlukan satu rancangan yang baik agar setelah selesai melihat sebuah atau serangkaian foto/gambar siswa dapat melakukan sesuatu yang pada akhirnya menguasai satu atau lebih KD.
            Menurut Weidenmann dalam buku Lehren mit Bildmedien menggambarkan bahwa melihat sebuah foto/gambar lebih tinggi maknanya dari pada membaca atau mendengar. Melalui membaca yang dapat diingat hanya 10%, dari mendengar yang diingat 20%, dan dari melihat yang diingat 30%. Foto/gambar yang didesain secara baik dapat memberikan pemahaman yang lebih baik. Bahan ajar ini dalam menggunakannya harus dibantu dengan bahan tertulis. Bahan tertulis dapat berupa petunjuk cara menggunakannya dan atau bahan tes.
            Sebuah gambar yang bermakna paling tidak memiliki kriteria sebagai berikut:
ž     Gambar harus mengandung sesuatu yang dapat dilihat dan penuh dengan informasi/data. Sehingga gambar tidak hanya sekedar gambar yang tidak mengandung arti atau tidak ada yang dapat dipelajari.
ž     Gambar bermakna dan dapat dimengerti. Sehingga, si pembaca gambar benar-benar mengerti, tidak salah pengertian.
ž     Lengkap, rasional untuk digunakan dalam proses pembelajaran, bahannya diambil dari sumber yang benar. Sehingga jangan sampai gambar miskin informasi yang berakibat penggunanya tidak belajar apa-apa.





BAB III
PENUTUP
Apabila antara pendekatan, strategi, metode, teknik, dan taktik pembelajaran sudah terangkai menjadi satu kesatuan yang utuh maka terbentuklah apa yang disebut dengan model pembelajaran. Jadi model pembelajaran pada dasarnya merupakan bentuk pembelajaran yang tergambar dari awal sampai akhir yang disajikan secara khas oleh guru. Untuk dapat melaksanakan tugasnya secara profesional seorang guru dituntut dapat memahami dan memiliki ketrampilan yang memadai dalam emngembangkan berbagai model pembelajaran yang efektif, kreatif, dan menyenenagkan.
Jika para guru atau calon guru telah dapat memahami konsep atau teori dasar pembelajaran yang merujuk pada proses (beserta konsep dan teori) pembelajaran. Maka pada dasarnya guru dapat secara kreatif mencobakan atau mengembangkan model pembelajaran tersendiri yang khas, sesuai dengan kondisi nyata di tempat kerja masing-masing. Sehingga pada gilirannya muncul model-model pembelajaran versi guru yang bersangkuta, yang tentunya semakin memperkaya model pembelajaran yang telah ada.

DAFTAR PUSTAKA

http://bandono.web.id/2009/04/02/pengembangan-bahan-ajar.php
Diktat Perencanaan Pengajaran oleh tim pengajar UNIMED







Tidak ada komentar:

Posting Komentar